Kita harus mengakui bahwa musik rohani beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan sangat pesat. Hal ini ditandai dengan bertambah kayanya jenis musik rohani yang masuk dalam industri musik. Sehingga lagu-lagu rohani itu, baik yang kontemporer maupun yang masuk dalam kategori praise and worship kaya akan berbagai jenis musik. Saya melihat hal ini sebagai suatu kemajuan karena musisi Kristen terus memperbesar kapasitas dan melipatgandakan talenta yang sudah Tuhan percayakan. Saya menyebutnya sebagai suatu perubahan. Change is good! Kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang dinamis dan bergerak dari masa ke masa. Begitulah memang seharusnya. Jadi kalau dalam perkembangan musik rohani pun terdapat perubahan (saya menyebutnya memasuki “musim baru”), itu berarti suatu kemajuan yang perlu kita semua sambut dengan gembira.
Sehubungan dengan perkembangan musik rohani, terutama untuk kategori Praise and Worship (meminjam istilah yang selama ini sudah mengakar di kalangan gereja untuk puji-pujian di dalam sebuah ibadah), seringkali saya mendengar perdebatan rekan-rekan sepelayanan yang kadang-kadang berakhir dengan suasana yang tidak enak. Berbeda pendapat dengan orang lain sebenarnya adalah hal yang biasa kalau kita menyikapinya dengan dewasa. Namun kalau perbedaan itu sampai ke taraf bahwa pendapatnya yang benar dan pendapat orang lain salah, itu menunjukkan ketidakdewasaan di dalam menyikapi perbedaan itu sendiri. Seorang hamba Tuhan dari Bali, Pdt. Timotius Arifin pernah berkata, “Tuhan menjadikan kita untuk bersatu, bukan untuk menjadi seragam.”
Perdebatan yang saya amati itu sebenarnya bukanlah hal yang esensi yaitu jenis dan warna musik yang diusung di dalam sebuah ibadah ataupun persekutuan ataupun apalah namanya. Perbebatan itu mengenai apakah lagunya beraliran tempo doeloe, pop, ballad, black music, hip hop, R’nB, jazz atau rock atau sebut saja aliran musik yang lain. Perdebatan itu belum lagi mengenai susunan/ urutan lagu-lagunya. Contohnya; kalau gereja si A, ibadah dimulai dengan dua lagu lambat, kemudian tiga lagu cepat, lalu satu lagu lambat lagi. Kalau di gereja si B, dimulai dengan tiga lagu cepat dulu, baru dua lagu lambat. Atau di gereja si C semuanya lagu lambat.
Dalam pelayanan, seringkali saya melihat hal ini sudah menjadi bahan lelucon dari para pelayan musik. Para pelayan musik yang saya maksudkan bisa pemain musik, pemimpin penyembahan (worship leader) dan para penyanyi latar (singers). Sayangnya perdebatan ini kadang sudah sampai tahap “menghakimi” urutan lagu yang dipakai di gereja tertentu. Kalau hal ini terus menerus terjadi dan sudah tersosialisasi maka akan timbul hubungan yang tidak sehat. Dan sangat disayangkan, sekali lagi yang dipermasalahkan adalah hal yang tidak esensi.
Sebenarnya apa sih esensi dari penyembahan? Apakah jenis lagu atau warna musiknya?
Di dalam Yohnaes 4:23 dikatakan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.” Di dalam percakapan dengan perempuan Samaria ini, Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa. Kalau Yesus memperkenalkan Allah pencipta langit dan bumi ini sebagai Bapa dalam kaitannya dengan penyembahan kepada wanita Samaria itu, berarti Dia mau memperkenalkan hubungan antara bapa dengan anak kepada gerejanya. Bahwa penyembahan adalah sebuah hubungan. Bandingkan bagaimana hubungan kita dengan ayah kita, ibu kita, saudara kita, sahabat kita dan orang disekeliling kita.
Penyembahan adalah persembahan hidup kita kepada Tuhan. Penyembahan adalah sebuah dedikasi hidup sepenuhnya kepada Tuhan melalui gaya hidup kita sehari-hari. Puji-pujian kita adalah salah satu ekspresi dari penyembahan kita kepada Tuhan. puji-pujian, nyanyian syukur, mazmur ataupun nyanyian rohani ini dinaikkan karena sebuah dasar yang kuat, yaitu CINTA. Cinta yang lahir karena Dia yang terlebih dahulu mencintai kita dan menaruh cinta-Nya di dalam hati kita. Sebab itu kenapa kita bisa mencintai Dia. Orang yang tidak pernah merasakan bagaimana dicintai, tidak akan pernah bisa mencintai orang lain. Karena Tuhan sangat tahu akan hal ini, kenapa Dia memilih untuk mencintai kita terlebih dahulu. Sehingga kita mengerti apa artinya mencintai. Sehingga kita dapat mencintai Tuhan dari hati kita dan akal budi yang diperbaharui firman-Nya.
Jadi, di dalam sebuah kebaktian ataupun ibadah kita tidak perlu memperdebatkan urutan lagu lambat-lagu cepat. Tuhan juga nampaknya tidak terlalu berminat mempermasalahkan aliran jenis musik yang mengiringi sebuah puji-pujian. Kita sendiri yang seringkali mengkotak-kotakan aliran sebuah musik lebih baik dan lebih rohani dari aliran musik yang lain. Dalam hal ini saya lebih setuju kalau kita berbicara mengenai selera bermusik seseorang. Selera dan minat itu terkadang datangnya alamiah, meminjam istilah ‘udah dari sononya’. Ada orang suka musik keroncong, dangdut, pop, rock, jazz, hip hop, R’nB dan sebut saja berbagai aliran musik yang lain. Meskipun kita tidak familiar dengan aliran musik tertentu, kita perlu menerima orang lain dengan pilihan jenis musiknya. Tuhan menyukai keberagaman dan kekayaan berbagai jenis musik. Kalau tidak, tentu Tuhan menciptakan semua manusia dengan rupa yang sama dan bahkan dengna jenis musik yang sama. Dan kehidupan tentunya akan sangat membosankan. So, yang Tuhan cari adalah si penyembah. Worshipper. Asalkan kita menyanyikannya buat Tuhan dari hati yang penuh kasih dan gairah cinta, jujur, tulus dan dengan sikap hati yang hormat kepada Tuhan, maka Tuhan pasti menikmati pujian, penyembahan dan ucapan syukur dari anak-anak-Nya yang dibuat-Nya dengan jari-jemari tangan-Nya sendiri. Yang dihembuskan dengan nafas yang berasal dari mulut-Nya sendiri (Kejadian 2:7). Intinya sikap hati yang benar. Kalau kita hati kita benar, maka sikap hidup kita juga benar. Sikap hati yang terpancar dari dalam ke luar dan menjadi berkat bagi banyak orang.
So, worship is not about music, is not about a song, is not about chuch or religion. Worship is all about God. Seperti nyanyian karya Matt Redman, “I’m coming back to the heart of worship. And it’s all about You. It’s all about You. It’s all about You, Jesus.
by : Kendrick Sumolang
Selengkapnya...
PENYEMBAHAN : SEGALANYA ALLAH.
Petrus Suhardi, S.Pd, Kamis, 05 Maret 2009PENYEMBAHAN ITU HARUS MENYALA 24 JAM !!!!!
Petrus Suhardi, S.Pd, Kamis, 26 Februari 2009Kesaksian dari dedengkot pujian penyembahan di Indonesia. Kita Simak yuk !!
Wawancara dengan Pdt. Prof. DR. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D (diambil dari WartaPlus Bethany edisi III, Desember 2004
Bicara soal pujian dan penyembahan dalam sejarah di Indonesia, nama Gereja Bethany Indonesia niscaya selalu disebut. Setiap hamba Tuhan pun paham kalau Gereja Bethany Indonesia merupakan gereja yang kali pertama menjadi trend setter praise and worship di negeri ini. Termasuk saat berbagai piranti musik modern masih dianggap tak layak digunakan sebagai instrumen dalam ibadah. Saat corak kebaktian yang rancak dianggap tak layak ditampilkan sebagai persembahan kepada Sang Raja.
Padahal, sejak era raja-raja dalam Perjanjian Lama, pujian dan penyembahan sudah menjadi warna yang melekat pada diri pahlawan-pahlawan Allah. Bahkan, sekalipun dunia memandang rendah hal itu.
Kisah Daud saat mengadakan perarakan pemindahan tabut Allah ke Yerusalem menjelaskan semuanya. Sesaat setelah menyadari kemurkaan Tuhan yang tak berkenan tabut itu diangkat dengan kereta, Daud menanamkan nilai pujian dan penyembahan amat tinggi pada perjalanan membawa tabut Allah.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut Tuhan itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu gemukan. Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga, dengan diiringi sorak nyanyian, bunyi sangkakala, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. Dampaknya, ketika tabut Tuhan itu masuk ke Yerusalem dan melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari di hadapan Tuhan, maka Mikhal – anak perempuan Saul yang diperisteri Daud - memandang rendah Daud dalam hatinya.
“Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!” kritik Mikhal.
Namun, bukan Daud namanya kalau kemudian jadi mengubah prinsip pujian dan penyembahannya kepada Tuhan. “Di hadapan Tuhan aku menari-nari… engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati,” jawab Daud. Sebagai akibat tindakan yang merendahkan praise and worship yang Daud persembahkan itu, Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.
MASUK RUANG MAHA KUDUS
Bertutur tentang pengertian praise and worship yang ditanamkan Tuhan kepada Gereja Bethany Indonesia, Gembala Sidang Gereja Bethany Indonesia Pdt. Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D membeberkan pemahaman teologis.
Berdasarkan Ibrani 9:1-5, pola kemah kudus Allah memiliki urut-urutan lokasi. Di Halaman Kemah, terdapat mezbah korban bakaran, yang melambangkan penghapusan dosa. Lalu ada juga, kolam baptisan yang melambangkan baptisan air sebagai meterai.
Masuk Ruang Kudus, terdapat meja roti pertunjukan yang melambangkan pembentukan oleh firman. Ada pula pelita emas melambangkan pembentukan oleh Roh Kudus, serta mezbah dupa yang melambangkan pujian dan penyembahan.
Puncaknya adalah Ruang Maha Kudus, berisi tabut perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan.
“Di sini kita dapat mengerti suatu kebenaran, bahwa untuk menaikkan pujian penyembahan yang posisinya sangat dekat dengan tabut perjanjian yaitu kehadiran Allah sendiri, setiap umat Tuhan harus melalui suatu proses pemulihan yang harus dimulai,” jelas Pdt. Alex.
Dipaparkannya, proses pemulihan itu dimulai dari penghapusan dosa sebagai bentuk penebusan, lalu dimeteraikan melalui baptisan air, dibentuk oleh firman Tuhan, dibentuk oleh Roh Kudus, dan akhirnya dilayakkan untuk memuji dan menyembah Tuhan. “Dalam fase akhir itulah, seorang penyembah dapat bertemu muka dengan Dia dan menerima segala berkat-berka-tNya,” urainya.
MEZBAH HARUS TERUS ’ON’
Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D menjelaskan, posisi pujian dan penyembahan yang berada pada mezbah dupa menunjukkan lokasi paling dekat dengan peti perjanjian. Tak ada lagi tirai yang membatasi mezbah dupa dengan peti tabut perjanjian. “Karena itu, sebagaimana mezbah dupa itu harus terus menyala, maka pujian dan penyembahan kita juga harus terus hidup selama 24 jam dalam sehari,” tegasnya.
Saat diwawancarai Warta Plus Bethany seusai memimpin ibadah di Gereja Bethany Indonesia Nginden, Pdt. Alex menegaskan, yang namanya pujian dan penyembahan jangan hanya ’on’ selama di gereja saja. “Di sini ini kan pernyataannya, klimaksnya. Tapi, praise and worship itu harus terus menyala dalam kehidupan. Di mobil praise and worship, di rumah praise and worship, harus terus…, bukankah tubuh ini merupakan Bait Allah, dan kuasa Tuhan akan turun di sini,” ungkapnya.
Pdt Alex lalu menggambarkan kehidupan ini tak beda porsinya dengan jalannya Ibadah Raya di setiap pekan. Ia menjelaskan, komposisi jalannya ibadah yakni mencakup 50% pujian dan penyembahan, 25% penyampaian firman Tuhan, dan 25% lagi menampilkan manifestasi buah dan karunia Roh Kudus.
“Roh Tuhan bekerja di antara pujian dan penyembahan yang kita lakukan dalam seluruh ibadah, lalu seluruh kuasa itu keluar dalam panca indera kita,” tuturnya.
MENJADI PENYEMBAH YANG BENAR
Bagaimana menjadi pemuji dan penyembah yang benar? Pdt. Alex menggarisbawahi pentingnya kita untuk memiliki moral, karakter, perasaan, pikiran, serta citra Kristus. “Kalau citranya sebagai anak Allah tak keluar, Roh Kudus tak berfungsi,” tegasnya.
Menjadi pemuji dan penyembah yang benar berarti memberikan hal terbaik yang kita miliki. Baik itu kekuatan, suara, serta penggunaan alat musik sebagai sarana dalam ibadah. Secara khusus, Pdt. Alex menekankan bahwa semua jenis peralatan musik itu awalnya milik Tuhan. “Iblislah yang menyelewengkannya. Kita harus mengembalikan fungsinya untuk kemuliaan Allah,” kata pria 63 tahun yang masih tampil bugar ini.
Tak terpungkiri, kini penggunaan berbagai alat-musik dan nuansa ibadah rancak, yang mulanya dikembangkan Gereja Bethany Indonesia, kini menjadi trend pujian dan penyembahan di banyak tempat. “Tapi, kalau sebuah persekutuan belum siap mengembangkannya ya jangan dipaksakan. Mungkin karena understanding-nya belum paham,” tukasnya.
PRAISE AND WORSHIP SEMBUHKAN SI BUNGSU
Gembala Sidang Pdt. Prof. DR. Abraham Alex Tanuseputra tak pernah bosan mengisahkan dahsyatnya kuasa pujian dan penyembuhan.
Ia mengenang, putera terakhirnya, Andreas Tanuseputra, yang lahir sungsang. “Akibat peristiwa itu, Andre mengalami kelumpuhan hingga usia lima tahun,” ujarnya. Si kecil tak tumbuh normal. Tak bisa bicara dan sama sekali tak mampu berdiri, sebagaimana anak-anak seusianya berkembang secara fisik.
Namun, bukannya mengeluh, pasangan Pdt. Alex dan Yenny Oentari terus mendoakan Andre. Setiap hari, mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan tak putus asa untuk kesembuhan Andre.
Pada usia lima tahun, kuasa pujian dan penyembahan mulai tampak. “Diawali dari gerakan kakinya, Andre kemudian mampu berjalan, bicara, hingga semua sembuh. 100%!” tegasnya.
Kini, si bungsu menjadi suami dari Lisda Andriany. Pasangan bahagia ini tengah menunggu kelahiran buah hati ketiganya. Tak ada yang menyangka, jalan hidupnya berubah karena pujian dan penyembahan.
Selengkapnya...
'MENU SPECIAL' PEMIMPIN PUJIAN
Petrus Suhardi, S.Pd,MAri kita belajar dari gereja lain. Nih dia !!
Profil Pdm. Filipus Eddy Indrayanto (diambil dari Warta Plus Bethany, Edisi III, Desember 2004)
SOSOK worship leader enerjik ini unik. Meski merasa mendapat karunia sebagai pemimpin pujian, anehnya, Filipus mengaku tak menguasai satu pun alat musik. “Tapi, Tuhan memampukan saya untuk membedakan nada,” kisahnya. Apa saja ‘menu’ jasmani dan rohaninya?
Dalam setiap Ibadah Raya di hari Minggu, rata-rata tiga kali Pdm. Filipus Eddy Indrayanto melayani sebagai worship leader. “Kadang sampai empat kali. Pagi dua kali di Nginden, sore di Manyar, lalu petang kembali ke Nginden,” papar ayah tiga putera ini.
Pria kelahiran 13 Maret, 32 tahun silam, dengan gamblang mengungkapkan, sebagai figur yang menjadi koordinator untuk menjadi jembatan penghubung penyembahan antara jemaat, pelayan musik-pujian yang lain, dan Tuhan, tugas seorang worship leader tidaklah ringan.
“Seorang worship leader harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Caranya, ia harus berhubungan erat dengan Tuhan setiap hari, dengan hari Minggu sebagai klimaks hubungan itu,” kata Filipus.
Inilah alasannya mengapa kebaktian hari Minggu disebut sebagai Ibadah Raya, “Sesuai namanya, Ibadah Raya itu adalah perayaan dan puncak pertemuan dengan Allah. Kalau setiap harinya itu namanya ibadah biasa.”
Ia menekankan, kalau konsep ‘bertemu Tuhan setiap hari’ diterapkan, tak akan lagi ditemukan fakta seorang worship leader baru mencari-cari pertemuan dengan Tuhan saat Ibadah Raya berlangsung.
“Itulah sebabnya banyak worship leader tak bisa menjadi jembatan antara musik, pengkhotbah dan jemaat, karena melulu menganggap bahwa waktu ibadah itu merupakan saatnya mencari Hadirat Tuhan,” keluhnya. Filipus menegaskan, seorang worship leader yang berhasil dalam pelayanannya harus terlebih dahulu memiliki hubungan baik dengan Tuhan.
Persiapan Minggu Subuh
Setiap kali mendapat kepercayaan pelayanan sebagai worship leader di Ibadah Raya, Filipus selalu menyediakan diri bangun tidur pada pukul tiga dini hari. “Baik saya harus memimpin pujian jam enam, jam tujuh, atau jam sepuluh pagi, bangun tidur tetap jam tiga pagi. Itu wajib hukumnya,” papar Filipus, yang juga menjadi pengerja sepenuh waktu di Gereja Bethany Indonesia Nginden sejak empat tahun lalu.
Pada pukul tiga subuh itulah ia memulai penyembahan secara pribadi. “Saya bawa dalam doa nama-nama pelayan Tuhan yang akan terlibat. Mulai dari pengkhotbah, tim musik, kelompok paduan suara, dan singer,” ceritanya. Filipus menyambung, “Lewat doa, hati kita terbuka dan peka sehingga bisa membawa satu pelayan dengan lainnya dalam harmonisasi pujian dan penyembahan.”
Begitulah, hubungan antar karakter dengan sesama pelayan Tuhan telah terselami dalam doa, hingga saat mereka saling bertemu di balik mimbar menjelang dimulainya acara, tinggal ice breaking saja. “Ya… guyon-guyon ringan untuk membangun keakraban. Seorang worship leader juga dituntut untuk bisa berkomunikasi sebaik-baiknya, karena bagaimana pun, karakter setiap orang kan berbeda-beda,” ucap pelayan Tuhan yang 17 tahun lalu mengawali kiprahnya di Persekutuan Doa 73, yang kini menjadi Gereja Bethany Indonesia di Sumurwelut, Surabaya.
Bagi Filipus, ada alasan lain mengapa ia harus bangun jam tiga pagi. “Pada waktu sepagi itu, pita suara kita masih lentur, sehingga dengan menaikkan penyembahan dan pujian sejak awal, pita ini jadi elastis. Hasilnya jauh lebih baik daripada mau melayani jam tujuh, tapi baru bangun jam enam pagi,” tuturnya. Sambil warming-up melatih pita suara, tak lupa Filipus melatih bagian lainnya dengan senam-senam kecil dan jogging di kamar mandi.
Meski telah menggeluti peran sebagai worship leader cukup lama, Filipus mengaku sama sekali tak bisa menguasai alat musik. “Talenta saya memang suara, tapi saya ini sama sekali tak bisa main musik. Ini memang aneh, karena umumnya pemimpin pujian itu pasti menguasai alat musik. Lha ini, nadanya saja saya nggak tahu. Tapi, Tuhan memberikan kepekaan untuk membedakan nada satu dengan nada lainnya,” tukasnya.
Jangan Tergantung Seorang ‘Idola’
Istirahat yang cukup sebagai kunci persiapan fisik juga menjadi perhatian utama Filipus. “Tiap Sabtu, saya berkomitmen, jam terakhir untuk pelayanan adalah jam delapan malam. Setelah itu, jam sepuluh malam, saya sudah harus berangkat tidur,” jabarnya. Ada pula ‘menu khusus’ sebelum tampil. Dua hari sebelum acara, Filipus tak bakal menyentuh air dingin, gorengan dan tak lupa selalu mereguk minuman hangat.
Bagaimana dengan fenomena adanya jemaat yang ‘mengidolakan’ seorang worship leader? Filipus tak terlalu mempersoalkan hal itu. Dengan catatan, jemaat harus tetap memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Sehingga tak sampai menimbulkan kesan ‘ketergantungan’ dalam memuji dan menyembah. “Siapapun yang memimpin, kalau ia punya hubungan yang dekat dengan Tuhan, pasti akan ‘tembus’ dengan Tuhan. Kalau mayoritas jemaat seperti itu, cara memimpinnya jadi mudah,” jelas pria bertubuh subur ini.
Sebaliknya, kalau kebanyakan jemaat tampil dengan membeda-bedakan figur worship leader, itu berarti kehidupan rohaninya belum matang. “Ia selalu tergantung siapa yang di depan. O, pemimpin pujian yang ini enak, tapi yang itu ‘ngangkat’,” ungkapnya. Keadaan seperti ini jugalah yang kerap kali membuat seorang worship leader merasa ‘berat’ dan ‘gak ngangkat’ dalam memimpin praise and worship. “Sebenarnya bukan masalah ngangkat atau tidaknya. Bukan soal ‘nembus’ hadirat Tuhan atau tidak, karena hadirat Allah itu pasti ada. Masalahnya, jemaat bisa merasakan hadirat itu atau tidak. Semua tergantung pada kesiapan pribadi jemaat. Kalau jemaatnya dewasa, pasti tidak akan terpengaruh siapa yang memimpin,” simpulnya. (Jj)
Selengkapnya...
PETUNJUK UNTUK PELAYAN PUJIAN PENYEMBAHAN
Petrus Suhardi, S.Pd,Praise and Worship Manual Instructions
Shalom Imam Lewi, Petunjuk atau Instruksi ini sungguh baik bagi anda yang terlibat dalam musik Pujian dan Penyembahan di Gereja Bethany Atlanta, baik sebagai acuan maupun untuk mengulang kembali apa yang harus dilakukan sebagai seorang Imam Lewi. Pergunakan handbook kecil ini untuk bertumbuh baik secara individu maupun dalam menjangkau jiwa untuk Tuhan Yesus.
Isi:
WORSHIP LEADER, SINGER DAN PEMUSIK
A. MENGAPA SEORANG SONG LEADER HARUS SEORANG WORSHIP LEADER
Seorang Song Leader bukan hanya sekedar seorang Pemimpin nyanyi-nyanyian dalam sebuah Kebaktian atau Ibadah, tetapi lebih dari itu seorang Pemimpin Nyanyi-nyanyian harus seorang PENYEMBAH dan PEMUJI / WORSHIP LEADER (WL).
Seorang Worship Leader bukan hanya seorang Pemimpin nyanyian yang trampil dan memiliki suara yang bagus, tetapi harus menjadi PENYEMBAH – PENYEMBAH yang dipanggil dan diurapi oleh Allah untuk melayani dalam rumah Tuhan / Gereja.
Mereka yang terpanggil atau terlibat dalam Pelayanan Gereja bukanlah mereka yang bermain musik atau bernyanyi , tetapi mereka yang telah MENYERAHKAN DIRI untuk pelayanan Musik – Nyanyian untuk Tuhan (Mzm. 57 : 8 – 10; Mzm. 108 : 2 – 4).
Top
B. TATA TERTIB WORSHIP LEADER & SINGER
Setiap WORSHIP LEADER DAN SINGER bertanggung jawab kepada Tuhan dan GerejaNya untuk melakukan tugas pelayanan yang Tuhan anugrahkan padanya.
Setiap WORSHIP LEADER & SINGER wajib mempersiapkan diri dengan baik untuk melayani Tuhan, diantaranya dengan cara :
1. Persiapan Diri
a) Pelayan Tuhan wajib mempersiapkan keberadaannya untuk melayani di hadirat Tuhan yang kudus.
b) Membangun kehidupan rohani yang berakar, bertumbuh dan berbuah secara berkesinambungan.
2. Persiapan Teknis
a) Wajibmempersiapkan daftar lagu/pujian yang akan dinyanyikan, sebelum tugas pelayanannya.
b) Wajib mengikuti latihan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan.
c) Wajibhadir sebelum Ibadah dimulai.
Bagi Setiap WORSHIP LEADER DAN SINGER yang dengan sengaja melanggar ketentuan-ketentuan diatas, berarti pelayan tersebut telah meremehkan HAK yang sudah diberikan oleh Tuhan dan mempermainkan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap Tuhan dan Gereja.
Top
C. KRITERIA SEORANG WORSHIP LEADER
1. Kriteria Rohani
a. Lahir baru dan ada buah pertobatan.
b. Memiliki karakter Kristus.
c. Penuh Roh Kudus.
d. Seorang Penyembah Allah.
e. Suka Berdoa.
f. Dipenuhi Firman Allah.
g. Menguduskan perkataan, bersih dalam ucapan/nyanyian.
2. Kriteria Teknis
a. Memiliki talenta vokal yang cukup baik.
b. Mengerti dasar-dasar musik.
c. Mampu memimpin.
d. Mampu berkomunikasi dengan baik.
e. Memiliki dan mengembangkan perbendaharaan lagu pujian.
Top
D. PERSIAPAN SEORANG WORSHIP LEADER
1. Persiapan Rohani
a. Setia dalam waktu doa.
b. Membaca Firman Tuhan.
c. Penyembahan pribadi.
d. Selalu menjaga kekudusan.
e. Doa dan puasa secara khusus.
f. Pemurnian motivasi, merendahkan diri.
2. Persiapan Teknis
1. Worship Leader harus mengetahui thema setiap nyanyian Pujian atau Penyembahan yang disusunnya.
2. Pemilihan lagu, apakah kita menguasai lagu tersebut? dan apakah jemaat mengenal lagu tersebut?
3. Menjaga kualitas vocal, latihan pernafasan.
4. Persiapan team, latihan bersama team musik & Singer.
5. Berapa waktu yang tersedia, termasuk kesaksian atau kata sambutan persembahan, pengumuman.
6. Tingkat pengenalan atau penguasan Lagu.
7. Kondisi atau keadaan Jemaat yang akan kita layani.
- Kita mengenal dengan baik.
- Cari informasi tentang usia mayoritas Jemaat.
- Bagaimana karakter jemaat di tempat atau daerah tersebut.
- Berapa jumlah jemaat yang ada.
3. Bagaimana Fasilitas Tempat Dan Waktu
1. Fasilitas penunjang (Sound system, musik, AC, dll).
2. Kondisi tempat (besar / kecil).
3. Waktu (pagi / siang / sore / malam).
Top
E. HAL–HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT MENJADI WORSHIP LEADER
1. Bangun Komunikasi Yang Erat Dengan Jemaat Pada Kesempatan Pertama :
1. Penuh kasih bukan dibuat-buat.
2. Kata-kata pembuka yang mengakrabkan dan menguatkan.
3. Pandangan mata dan senyuman.
2. Hindari Kata-Kata Yang Melemahkan Dan Menghakimi Jemaat :
a. Memotivasi dan membangun jemaat dengan kata-kata yang positif, seperti :
- “Saya percaya Allah hadir di sini dan siap memberkati Saudara…”
- “Ada kuasa dalam hadirat Allah ……”
- “Saudara yang datang dengan masalah pasti akan pulang dengan kelepasan ……”
b. Jangan menghakimi keterlambatan jemaat.
c. Jangan menghakimi cara jemaat memuji, jangan paksakan jemaat untuk sama seperti kita.
d. Gunakan kata-kata iman : “ Saya percaya ………”
3. Persiapkan Penampilan Yang Baik :
a. Pakaian rapi dan sopan.
b. Rambut rapi.
c. Wajah segar, cerah dan bersih.
4. Hindari pertentangan dengan pemusik atau singers yang menimbulkan ketidak-sejahteraan suasana ibadah :
a. Beri aba-aba atau komando yang jelas dan disertai dengan senyum.
b. Kalau terjadi kesalahan, jalan terus (untuk membangun kepercayaan diri seluruh team).
c. Ingat! kita sedang menyembah dan memuji Allah, dan sedang membangun komunikasi yang akrab dengan Allah.
5. Hindari pengulangan lagu terlalu banyak, yang dapat menjenuhkan.
6. Fleksibel dalam memimpin dan peka terhadap kehendak Roh Kudus untuk suatu perubahan - perubahan sikap dan berbagai gaya dalam memimpin sehingga membawa suasana yang hidup, meriah, indah dan penuh kuasa Roh Kudus.
7. Hindari banyak bicara, komentar disaat lagu sedang dinyanyikan, sebaiknya gunakan kata-kata, komentar-komentar yang tepat pada saat jeda lagu.
8. Hindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik :
1. Terlalu sering menutup mata.
2. Kebiasan gerakan tangan yang kurang baik.
3. Membelakangi jemaat.
4. Refleks mata berkedip-kedip.
9. Jangan biarkan suasana vakum untuk beberapa waktu.
10. Seringlah mengkoreksi penampilan saudara.
1. Gaya di panggung, cara berdiri, gerakan tangan.
2. Cara memegang microphone.
3. Pengucapan istilah dan komentar
11. Perhatikan nada dasar lagu yang PAS, tidak ketinggian, juga tidak kerendahan (perhatikan nada dasar Asli dari Pencipta Lagunya).
12. Perhatikan “Intro” dan “Ending” setiap lagu, sehingga tepat dengan iramanya, juga pada saat “Interlude” jika ada.
13. Pengulangan lagu yang wajar sesuaikan dengan situasi Jemaat.
14. Kuasai Aba-aba (Hand Signals).
1. Nada dasar.
2. Pengulangan.
3. Overtone.
4. Perlambat / Percepat tempo.
5. Perkeras / perhalus suara.
6. Pengulangan coda.
7. Acapela.
8. Drums Only.
9. Piano / keyboards only.
F. PERSIAPAN SEORANG SINGER
(1 Taw. 25 : 1 – 31)
Seorang Singer dalam ibadah haruslah seorang penyembah Allah (worshippers), sehingga persiapan seorang singer tidak hanya pada saat menjelang ibadah saja melainkan setiap saat membangun kehidupan penyembahannya.
Singer harus penuh Roh Kudus, agar ada URAPAN dalam pelayanannya, ia senantiasa mengandalkan Roh Kudus dan mempersiapkan dirinya untuk semakin peka dalam tuntunan dan pekerjaan Roh Kudus.
Singer haruslah seorang yang suka berdoa :
1. Mempersiapkan diri dalam doa khusus bagi seluruh team yang ditunjangnya bagi umat yang dilayani.
2. Berlatih khusus. memiliki kemauan kuat untuk meningkatkan “Skill”-nya.
Top
G. FUNGSI SINGER’S DALAM TEAM
1. Memberi tenaga vokal (vocal power) pada setiap pujian yang dinaikkan.
2. Memberi harmoni dan keindahan pada setiap pujian yang dinaikkan.
3. Memberi inspirasi bagi jemaat dalam memuji Tuhan. Inspirasi dapat berupa :
1. Ekspresi atau mimic muka, mata
2. Mengangkat tangan atau bertepuk tangan.
3. Gerakan atau tarian tertentu.
4. Menopang pemimpin pujian dan pemusik melalui doa.
Top
H. PEMUSIK
Dalam pelayanan musik, peran pemusik adalah mambawa suasana pemyembahan ke atmosfir yang penuh hadirat Allah dan membantu jemaat untuk mengangkat suara mereka dalam menyanyikan lagu.
Sebagai seorang pemusik, anda tidak dapat menghindari suatu kondisi di mana jemaat tidak memandang/melihat anda; dengan kata lain, anda pasti menjadi panutan/sorotan/contoh bagi jemaat. Menjadi seorang pemusik gereja merupakan panggilan yang luarbiasa. Jangan memandang rendah panggilan tersebut. Menjadi contoh berarti menjadi saksi hidup bagi orang lain. Carilah Tuhan tiap hari dalam saat teduhmu dan “BERDOA SEBELUM MEMAINKAN ALAT MUSIK”
Sebagai seorang pemusik, anda mungkin belajar sendiri atau pernah dilatih tetapi jangan memainkan alat musik melewati batas saat ibadah karena anda berada dalam satu tim musik. Jka ada suatu teknik atau permainan yang anda ingin tonjolkan maka gunakan pada saat berlatih sehingga permainan tersebut sempurna saat dibawa ke ibadah.
Juga sebagai seorang pemusik, anda pasti tidak pernah puas untuk mengetahui tentang musik. Tetaplah kejar suatu pelajaran yang baru. Tetap berlatih dan belajar.
Top
I. TATA TERTIB WORSHIP PEMUSIK
Setiap PEMUSIK bertanggung jawab kepada Tuhan dan GerejaNya untuk melakukan tugas pelayanan yang Tuhan anugerahkan padanya.
Setiap WORSHIP LEADER & SINGER wajib mempersiapkan diri dengan baik untuk melayani Tuhan, diantaranya dengan cara
1. Persiapan Diri
a) Pelayan Tuhan wajib mempersiapkan keberadaannya untuk melayani di hadirat Tuhan yang kudus.
b) Membangun kehidupan rohani yang berakar, bertumbuh dan berbuah secara berkesinambungan.
2. Persiapan Teknis
c) Wajib mengikuti latihan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan.
d) Wajibhadir sebelum Ibadah dimulai.
Top
LAMPIRAN: Tanya Jawab & Artikel
I. TANYA JAWAB UNTUK PEMUSIK
1. Gimana cara menjangkau jiwa melalui musik?
· Pakailah bahasa dan rythm yang relevan dan 'membumi'.
· Terjemahkan visi, misi dan nilai-nilai dari gereja lewat lagu/musik.
· Membuat event-event yang dapat menjadi wadah untuk para musisi/penyanyi/pencipta lagu/dan lain-lain.
· Menyalurkan aspirasi dan talenta mereka (misal: konser, lomba cipta lagu, festival, dan sebagainya)
2. Karakter apa yang harus dimiliki?
· Kerendahan hati.
· Sikap ("attitude") yang baik.
· Hati yang mudah diajar dan menerima masukan.
· Jangan pernah puas dengan mediocrity (biasa-biasa), karena excellence itu sebenarnya dapat dicapai.
3. Yang menjadi penghambat:
· Tidak bergabungnya dalam kejemaatan lokal, sehingga visi kurang tajam dan kurang/tidak diperlengkapi.
· Motivasi yang tidak murni atau pun agenda pribadi.
· Terlalu dipimpin oleh emosi/perasaan, karena rata-rata pemain musik adalah pribadi yang berhubungan dekat dengan perasaannya (soul).
3. Apa yang harus di-perbaiki dari pemusik gereja supaya musik Kristen kelihatan menarik?
· Jadilah relevan.
· Perluas jenis musik yang dipakai.
· Pakai kreativitas dengan 'berpikir di luar kotak'.
· Terus perbaharui perbendaharaan musik.
Top
II. ARTIKEL UNTUK PEMUSIK: URAPAN (Source: internet)
Dalam ceramah-ceramah musik yang saya ikuti dan adakan, kedua hal ini selalu menjadi pertanyaan dan sorotan. Mana yang lebih utama, skill atau urapan? Apakah skill harus 80%, urapan 20% saja cukup? Atau sebaliknya?
Dalam pelayanan musik yang saya geluti, ada orang yang mengatakan ? yang penting urapannyalah, skill tidak terlalu penting? ada pula yang berpendapat terbalik ? buat apa urapan kalo skillnya tidak memadai atau mainnya tidak becus.?
Mari kita lihat lagi ke ke Perjanjian Lama, Allah memilih orang-orang dari suku Lewi yang telah dikuduskan dan diurapi untuk melayani-Nya. Allah memilih orang-orang Lewi yang mempunyai keahlian dalam bidangnya. Artinya apa? Melalui Musa dan Harun, Allah memilih orang yang diurapi untuk menjadi imam (dalam hal ini orang Lewi) dan orang-orang yang ahli dalam bidangnya.
Mari kita lihat sejenak apa yang Alkitab katakan tentang hal ini: Tentang urapan pada orang Lewi: I Tawarikh 25 25:7 Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk TUHAN -- mereka sekalian adalah ahli seni -- ada dua ratus delapan puluh delapan orang.
Jadi menurut saya, kedua ungkapan di atas adalah salah, yang benar adalah antara skill dan urapan harus seimbang, atau ijinkan saya mengatakan, kalo Anda mau memberikan yang terbaik, maka Skill Anda harus 100%, urapan dalam pelayanan harus 100%. Ini semua dalam pengertian, skill dan urapan harus seimbang, tidak bisa kita hanya mengandalkan skill tanpa urapan, atau kita hanya menerima urapan tanpa mempunyai skill yang baik.
Mungkin hal ini yang masih sering kita temui dalam pelayanan musik, adanya ketidak seimbangan antara keduanya. Jika Anda mau memberi yang terbaik buat Allah kita, maka berdoa, kuduskan diri kita, bina hubungan yang intim dengan Allah, maka urapan Allah akan melimpah dalam pelayanan Anda. Kemudian latihlah skill Anda, sehingga Anda bisa bermain sebaik mungkin untuk kemuliaan nama-Nya (+++by Semmy)
Top
III. ARTIKEL UNTUK WORSHIP LEADER/SINGER/PEMUSIK: PELAYAN JUGA PERLU MAKAN (Source: internet)
Lukas 10:42
… Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Seiring dengan terbukanya wawasan dan pemahan saya tentang apa itu pelayanan, makin lama saya makin sadar bahwa kita yang melayani harus juga dilayani atau mungkin bahasa yang tepat ‘di kenyangkan’ oleh makanan rohani.
Karena itulah Tuhan Yesus katakan kepada Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik. Kalau kita telusuri lebih dalam lagi dalam teks yang ada, bahwa Maria memilih untuk duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan suara-Nya berkata-kata, sedangkan Martha sibuk melayani dan mempersiapkan makanan.
Sebagai pelayan Tuhan di gereja, sering dengan sadar atau tidak sadar kita mengabaikan hal ini. Contoh sederhana yang dapat kita lihat, setelah pujian dan penyembahan pendeta naik ke mimbar untuk berkotbah, tetapi para musisi pun mencari acara sendiri di luar, bergurau, ngomong-ngomong sendiri dan bahkan yang parahnya ada yang sambil merokok.
Pada awal saya melayani saya pun sempat seperti itu, ketika kotbah disampaikan, kita keluar dari gereja dan mulai buat acara sendiri, ngobrol-ngobrol dengan pelayan lainnya (meski tidak sambil merokok). Tetapi saya dinasehati oleh orang tua saya, supaya pada waktu kotbah disampaikan, kita sebagai pelayan pun harus duduk mendengarkan firman Tuhan seperti jemaat lain. Kita pun perlu diisi oleh firman Tuhan.
Beberapa hamba Tuhan kadang mewajibkan para musisi tetap di tempatnya. Pengalaman saya ketika main musik dan yang berkotbah Pdt. Ronny Daud Simeon, beliau minta kita tetap di tempat. Saya yakin alasan paling utama adalah agar kita dengar firman Tuhan dan yang kedua jika mendadak beliau mau nyanyi, kita siap.
Sebagai seorang pelayan di gereja, apapun bentuk pelayanan kita, ketika waktunya kotbah dan firman disampaikan, kita mesti duduk dan memperhatikan firman Tuhan. Sadar atau tidak sadar, Iblis berusaha untuk selalu menggoda kita dengan berbagai macam cara, tidak ada cara lain untuk melawan godaan Iblis yang begitu luar biasa sekarang, hanya dengan firman itu. Iman kita bertumbuh karena firman (Roma 10:17), bukan hanya karena sekedar melayani Tuhan di gereja, tetapi karena kita memakan firman itu. Itulah juga alasan mengapa hal ini diungkapkan dalam kisah pencobaan di padang gurun”
Matius 4:3-4 3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." 4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Kalau kita punya sikap yang tidak menghargai firman, terbiasa tidak mendengar kotbah, mari kita berubah dan meneladani Maria. Dan dengan telinga iman kita mendengar hal yang sama seperti yang Tuhan Yesus katakan kepada Marta, “ Semmy telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Melayani Tuhan itu penting, tetapi yang terpenting adalah mendengar Ia berkata-kata.
1 Petrus 2:2
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,
Firman Tuhan menghindarkan kita dari berbuat dosa yang ujungnya adalah maut-neraka, firman Tuhan mengarahkan kita pada keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus.
Sekali lagi, jangan lupa ... pelayan juga perlu makan ... yaitu firman Tuhan. (+++ by. Semmy)
Top
IV. ARTIKEL UNTUK WORSHIP LEADER/SINGER/PEMUSIK: KETIKA ANDA JADI JEMAAT (Source: internet)
Dalam berbagai kesempatan pelayanan di beberapa denominasi gereja, terkadang saya harus menjadi seorang musisi yang cuek. Cuek disini bukan berkonotasi negatif, tetapi cuek akan suasana ibadah and just worship God!
Pernakah Anda sebagai seorang musisi atau singers atau WL hadir dalam ibadah di gereja lain dan Anda merasa bahwa suasana ibadah, khususnya pujian penyembahan betul-betul merusak konsentrasi Anda. Mungkin Anda pernah, dan buat saya hal ini sering saya alami. Hal ini biasanya timbul akibat model permainan dari musisi yang amburadul dan semaunya saja.
Memang mau tidak mau kita harus sadar bahwa tidak semua gereja memiliki personil dan peralatan yang bagus. Ketika menghadiri sebuah kebaktian, terkadang saya melihat peralatan yang sangat terbatas dan yang lebih 'parahnya', kemampuan si pemusik yang terbatas sehingga permainannya cenderung show off & kacau. Karena kita terbiasa mendengar musik yang bagus, akhirnya kita jadi 'senewen' mendengarnya. Jadinya sepanjang puji-pujian, kita tidak dapat berkonsentrasi untuk mengikuti ibadah, tetapi mengomel karena permainan musik yang buruk.
Apakah hal ini salah? Buat saya ini normal, apalagi jika kita sudah terbiasa mendengarkan permainan musik yang ok dari sebuah worship team, tetapi akan menjadi bumerang buat kita jikalau hal menyebabkan kita kehilangan konstrasi untuk menyembah Allah.
Jadi bagaimana? Saya berpendapat, bahwa kedua pihak harus membenahi diri, si musisi yang permainnya buruk harus meningkatkan kemampuannya, sehingga bisa menghasilkan permainan yang lebih teratur dan manis untuk di dengar. Dengan mempertajam skill maka niscaya permainannya tidak merusak suasana dan konsentrasi para jemaat yang beribadah, apalagi kalau ada jemaat yang mempunyai kuping yang peka. Di sisi lain, anggota jemaat atau siapa saja yang hadir dalam kebaktian tersebut hendaknya tetap mengarahkan hatinya untuk memuji dan menyembah Allah, disinilah yang saya maksud dengan Musisi 'Cuek', terkadang kita harus 'cuek'. (+++ by. Semmy)
Top
V. ARTIKEL UNTUK PEMUSIK: TERLALU NGE-FLOW (Source: internet)
Dalam ibadah-ibadah minggu yang saya ikuti, saya melihat ada beberapa gejala yang kelihatannya 'baik', tapi bisa membuat suasana ibadah menjadi kacau. Salah satuya gejala musisi yang terlalu 'ngeflow'
Sebagai keyboardist gereja terkadang saya mengalami gejala ini, karena keasikan worship, sampai-sampai kita sebagai musisi, apalagi sebagai leader, sudah ngeflow sendiri tanpa memperhatikan yang lain, termasuk memperhatikan pemimpin pujian. Sehinngga pada saat WL memberikan aba-aba, kita tidak lagi memperhatikannya. Hal ini bisa lebih parah jika dalam bermain musik, kita worship sambil menutup mata.
Menurut hemat saya, setiap musisi khususnya yang memegang lead instrumen hendaknya selalu 'sadar' dan selalu konsentrasi kepada aba-aba dari pemimpin pujian. Tidak ada salahnya worship saat memainkan instrumen kita, tapi jangan terlalu asyik sendiri, sehingga kita berjalan sendiri tanpa memperhatikan WL.
Terkadang hal ini dapat menyebabkan suasana ibadah terganggu karena adanya ketidakharmonisan dan ketidaksinkronan antara musisi dan WL. Kita bisa worship sendiri jikalau sedang practice atau bermain sendiri di rumah, so every day worship God, tetapi hari minggu seharusnya kita tetap keep our concentration and our eye to the Worship Leader.
Selengkapnya...
ISTILAH DALAM PUJIAN PENYEMBAHAN
Petrus Suhardi, S.Pd,ISTILAH-ISTILAH DALAM PUJIAN
BARAK (Ibrani)
Kata dasar : Barak-lutut/berkat.
Kata ini dipergunakan untuk:
1. menyanjung, memberi hormat, memberkati.
2. memuji, merayakan, memuja.
3. mengakui Allah sebagai sumber berkat.
4. mengakui Allah sebagi sumber kuasa.
Bentuk pujian ini menyatakan suatu sikap penghormatan dan keheningan di hadapan Allah. Tidak ada pernyataan dalam kata ini tentang ekspresi vokal ataupun ucapan.
Dasar Alkitab:
Mazmur 103:1-2, Mazmur 103:20-23
SHABACH (Ibrani)
Shabach berasal dari akar kata yang berarti berseru dengan suara keras.
Kata ini dipergunakan untuk:
1. sorak kemenangan
2. memuji, memuliakan, memegahkan
3. berseru tentang kemuliaan, kuasa, kemurahan dan kasih Allah
4. bermegah dalam Tuhan
Tetapkan pujian ini ada dalam roh kita, keluarkan lewat mulut, proklamasikan pujian ini. Dengan demikian pujian ini merupakan pekik kemenangan dan kejayaan Tuhan kita.
Dasar Alkitab :
Mazmur 47:2, Mazmur 63:4, Mazmur 89:16, Mazmur 117:1, Yesaya 12:6
TOWDAH (Ibrani)
Kata Dasar : Toda – Korban syukur yang dinaikkan oleh orang-orang Israel.
Kata ini diturunkan dari Yadah, yang berhubungan dengan penggunaan tangan sebagai ungkapan pengakuan, pemujaan dan pengorbanan.
Kata ini dipergunakan untuk :
1. mengucap syukur
2. menaikkan korban pujian sebagai tindakan iman
3. memberikan pengakuan
Bentuk pujian ini harus dinaikkan dengan sukacita walaupun situasi dan kondisi tidak mengajak untuk bersukacita. Yang penting adalah kita mau melakukannya!
Dasar Alkitab :
Mazmur 42:5, Mazmur 50:23, Mazmur 69:31-32, Mazmur 100:4, Mazmur 107:22, Yesaya 51:3, II Tawarikh 29:31
HALAL (Ibrani)
Kata dasar : Halal – menjadi bersih, menjadi cemerlang, bersinar.
Kata ini dipergunakan untuk:
1. menyanjung, membanggakan
2. merayakan dengan penuh sukacita, semangat yang menyala-nyala
3. memasyurkan, mengagungkan
Bentuk pujian ini harus dipersembahkan dalam suatu sikap kegirangan dan kesukacitaan. Diekspresikan dalam : ucapan (Yeremia 31:7), nyanyian (Mazmur 69:31), tari-tarian (Mazmur 149:3), alat musik. Penekanan bentuk pujian ini adalah pada pembanggaan terhadap suatu obyek.
Dasar Alkitab :
Mazmur 18:4, Mazmur 22:23 , Mazmur 44:9, Mazmur 69:35, Mazmur 102:19, Mazmur 149:3, Mazmur 150, I Tawarikh 25:1,3, II Tawarikh 20:21
Halal dan Yadah erat berkaitan dalam Alkitab seringkali dilakukan bersamaan secara otomatis. Kata Halal ini paling sering digunakan untuk kata puji-pujian dalam Alkitab. Kata tersebut berasal dari bentuk perintah “Haleluya” yang berarti “Pujilah Tuhan dengan kemegahan dan penuh sukacita serta memasyurkan Dia dengan suara nyaring”.
ZAMAR (Ibrani)
Kata Dasar : Zamar – memainkan suatu alat musik, menyentuh dengan jari-jari bagian suatu alat musik, menyanyi dengan diiringi alat musik (khususnya memetik / membunyikan alat musik yang berdawai).
Kata ini dipergunakan untuk :
1. bernyanyi, memuji
2. memainkan alat musik
3. ekspresi yang penuh sukacita dengan musik
4. merayakan dengan nyanyian dan musik
Biasanya Zamar juga diterjemahkan dengan kata Mazmur. Mazmur dalam bahasa Yunani ditulis PSALMOS / PSALLO yang artinya sama dengan Zamar.
Dasar Alkitab :
Mazmur 30:5, Mazmur 33:2-3, Mazmur 47:6-7, Mazmur 57:8-9, Mazmur 68:4-5, Mazmur 98:5, Mazmur 144:9, Mazmur 147:7, Mazmur 149:3
TEHILLAH (Ibrani)
Berasal dari kata dasar Halal – menyanyikan halal.
Artinya pujian pengagungan, pemujaan, nyanyian kemuliaan. Tehillah adalah nama Ibrani untuk kitab Mazmur (Pujian) Mazmur adalah Pujian spontan yang diilhami oleh Roh Kudus, dicatat secara permanen di dalam Alkitab.
Kata ini dipergunakan untuk :
1. menyanjung
2. bernyanyi dengan penuh semangat
3. bermazmur
4. merayakan dengan pujian
Bentuk pujian ini berbeda dengan bentuk pujian yang lain. Dalam bentuk pujian yang lain, kita memerlukan iman, sedangkan untuk bentuk pujian ini Allah telah menanggapi iman kita. Tehillah adalah klimaks pujian kita, dimana kita masuk dalam kemuliaan Allah secara langsung dan tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali rasa takut, gentar, kagum, dan hormat kita dalam menyembah, memuja, meninggikan dan memuliakan Dia Raja di atas segala raja (Wahyu 4:5, Yehezkiel 1, Yesaya 6).
Dasar Alkitab : Mazmur 22:4, Mazmur 33:1, Mazmur 40:3, Mazmur 48:11, Mazmur 66:2, II Tawarikh 20:22.
YADAH (Ibrani)
Asal kata: Yadah – menggunakan tangan.
Kata ini dipergunakan untuk :
1. pengakuan dengan mengangkat tangan
2. menyembah dengan mengangkat tangan
3. bersyukur dengan mengangkat tangan
Penekanan pada bentuk pujian ini adalah pada pengakuan dan pernyataan terhadap suatu fakta (sifat dan pekerjaan Allah). Mengungkapkan suatu tindakan, pujian yang keluar dari dalam hati dengan ekspresi mengangkat tangan kepada Allah.
Dimana kita mengangkat tangan?
Di hadapan orang lain (Mazmur 35:18)
Di dalam rumah Tuhan (Mazmur 122:4)
Di antara bangsa-bangsa (II Samuel 22:50, Mazmur 18:50)
Dasar Alkitab :
Mazmur 9:2, Mazmur 18:50, Mazmur 28:7, Mazmur 42:5, Mazmur 43:4, Mazmur 108:4, Mazmur 111:1, II Tawarikh 20:21
ISTILAH-ISTILAH DALAM PENYEMBAHAN
Dalam Perjanjian Lama :
SHACHAH (Bahasa Ibrani)
Berarti bersujud, tersungkur untuk menghormati, merendahkan diri, berlutut dengan kepala menyentuh tanah.
Dalam Perjanjian Baru :
LATREUO (Bahasa Yunani / Gerika)
Berarti keadaan sebagai kuli atau budak, perhambaan kepada Allah.
PROSKUNEO (Bahasa Yunani / Gerika)
Dasar Alkitab : Yohanes 4:23-24. Berarti mencium tangan, melakukan penghormatan / penyembahan dengan mencium tangan, membungkukkan badan dalam pemujaan. Kata ini biasanya dipakai untuk anjing, menurut arti kata aslinya berarti mencium, seperti anjing yang sedang menjilat tangan tuannya.
Lukas 4:8 “… Engkau harus menyembah (Proskuneo) Tuhan Allah mu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Latreuo).”
PUJIAN ADALAH
Cara atau tindakan untuk mengagungkan, membesarkan dan memuliakan Tuhan atas apa yang telah Tuhan perbuat, apa yang sedang Tuhan perbuat dan apa yang akan Tuhan perbuat dalam hidup kita.
Pujian merupakan tindakan kemauan. Pujian harus berfungsi menurut kehendak dan bukan emosi. Kita harus mau dan memutuskan untuk memuji Tuhan sekalipun kita dalam keadaan tidak senang untuk melakukannya.
Pujian tidak tergantung pada perasaan hati, melainkan didasarkan pada kebesaran Tuhan (Mazmur 103).
Ciri utama dari pujian adalah adanya perayaan dan sukacita yang meluap-luap. Diekspresikan dengan menyanyi, memekik, memainkan alat musik, manari-nari dan ekspresi luar yang lain.
FOKUS / ARAH PUJIAN :
1. Sesuatu yang kita tujukan langsung kepada Tuhan (bersifat vertikal) - pujian pengagungan
2. Sesuatu yang kita ungkapka n kepada orang lain tentang Tuhan (bersifat horizontal)
PENYEMBAHAN ADALAH
Ekspresi hati (bukan emosi) dalam wujud kasih dan pemujaan sebagai hasil suatu hubungan, dengan sikap dan pengakuan akan kepribadian dan ke-TuhananNya. Penyembahan bukanlah musik, namun musik dapat dipergunakan untuk mengekspresikan kasih dalam penyembahan. Penyembahan adalah dua orang kekasih yang saling memberi respon, dimana di dalamnya terdapat:
Suatu kesediaan dan ketaatan untuk menanggapi keinginan mempelai pria. Sikap tunduk (bukan agresi / menyerang) yang merupakan kunci dalam penyembahan.
Penyembahan adalah menikmati pribadi Allah sendiri. Roh kita menjamah Roh Tuhan (Yohanes4:23).
Penyembahan itu tidak ternilai harganya dalam kehidupan orang percaya, dan iblispun mengetahui betapa pentingnya penyembahan tersebut. Karena itu ia menawarkan seluruh dunia kepada Yesus, bila Ia mau menyembah kepadaNya (Matius 4:10). Tetapi Yesus mengatakan bahwa penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah. Saat kita menyembah, kita diubahkan menjadi serupa dengan Dia (II Korintus 3:18, I Yohanes 3:2).
Selengkapnya...
