PENYEMBAHAN ITU HARUS MENYALA 24 JAM !!!!!

Kesaksian dari dedengkot pujian penyembahan di Indonesia. Kita Simak yuk !!

Wawancara dengan Pdt. Prof. DR. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D (diambil dari WartaPlus Bethany edisi III, Desember 2004
Bicara soal pujian dan penyembahan dalam sejarah di Indonesia, nama Gereja Bethany Indonesia niscaya selalu disebut. Setiap hamba Tuhan pun paham kalau Gereja Bethany Indonesia merupakan gereja yang kali pertama menjadi trend setter praise and worship di negeri ini. Termasuk saat berbagai piranti musik modern masih dianggap tak layak digunakan sebagai instrumen dalam ibadah. Saat corak kebaktian yang rancak dianggap tak layak ditampilkan sebagai persembahan kepada Sang Raja.

Padahal, sejak era raja-raja dalam Perjanjian Lama, pujian dan penyembahan sudah menjadi warna yang melekat pada diri pahlawan-pahlawan Allah. Bahkan, sekalipun dunia memandang rendah hal itu.




Kisah Daud saat mengadakan perarakan pemindahan tabut Allah ke Yerusalem menjelaskan semuanya. Sesaat setelah menyadari kemurkaan Tuhan yang tak berkenan tabut itu diangkat dengan kereta, Daud menanamkan nilai pujian dan penyembahan amat tinggi pada perjalanan membawa tabut Allah.

Apabila pengangkat-pengangkat tabut Tuhan itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu gemukan. Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga, dengan diiringi sorak nyanyian, bunyi sangkakala, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. Dampaknya, ketika tabut Tuhan itu masuk ke Yerusalem dan melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari di hadapan Tuhan, maka Mikhal – anak perempuan Saul yang diperisteri Daud - memandang rendah Daud dalam hatinya.

“Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!” kritik Mikhal.

Namun, bukan Daud namanya kalau kemudian jadi mengubah prinsip pujian dan penyembahannya kepada Tuhan. “Di hadapan Tuhan aku menari-nari… engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati,” jawab Daud. Sebagai akibat tindakan yang merendahkan praise and worship yang Daud persembahkan itu, Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.

MASUK RUANG MAHA KUDUS

Bertutur tentang pengertian praise and worship yang ditanamkan Tuhan kepada Gereja Bethany Indonesia, Gembala Sidang Gereja Bethany Indonesia Pdt. Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D membeberkan pemahaman teologis.

Berdasarkan Ibrani 9:1-5, pola kemah kudus Allah memiliki urut-urutan lokasi. Di Halaman Kemah, terdapat mezbah korban bakaran, yang melambangkan penghapusan dosa. Lalu ada juga, kolam baptisan yang melambangkan baptisan air sebagai meterai.

Masuk Ruang Kudus, terdapat meja roti pertunjukan yang melambangkan pembentukan oleh firman. Ada pula pelita emas melambangkan pembentukan oleh Roh Kudus, serta mezbah dupa yang melambangkan pujian dan penyembahan.

Puncaknya adalah Ruang Maha Kudus, berisi tabut perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan.

“Di sini kita dapat mengerti suatu kebenaran, bahwa untuk menaikkan pujian penyembahan yang posisinya sangat dekat dengan tabut perjanjian yaitu kehadiran Allah sendiri, setiap umat Tuhan harus melalui suatu proses pemulihan yang harus dimulai,” jelas Pdt. Alex.

Dipaparkannya, proses pemulihan itu dimulai dari penghapusan dosa sebagai bentuk penebusan, lalu dimeteraikan melalui baptisan air, dibentuk oleh firman Tuhan, dibentuk oleh Roh Kudus, dan akhirnya dilayakkan untuk memuji dan menyembah Tuhan. “Dalam fase akhir itulah, seorang penyembah dapat bertemu muka dengan Dia dan menerima segala berkat-berka-tNya,” urainya.

MEZBAH HARUS TERUS ’ON’

Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D menjelaskan, posisi pujian dan penyembahan yang berada pada mezbah dupa menunjukkan lokasi paling dekat dengan peti perjanjian. Tak ada lagi tirai yang membatasi mezbah dupa dengan peti tabut perjanjian. “Karena itu, sebagaimana mezbah dupa itu harus terus menyala, maka pujian dan penyembahan kita juga harus terus hidup selama 24 jam dalam sehari,” tegasnya.

Saat diwawancarai Warta Plus Bethany seusai memimpin ibadah di Gereja Bethany Indonesia Nginden, Pdt. Alex menegaskan, yang namanya pujian dan penyembahan jangan hanya ’on’ selama di gereja saja. “Di sini ini kan pernyataannya, klimaksnya. Tapi, praise and worship itu harus terus menyala dalam kehidupan. Di mobil praise and worship, di rumah praise and worship, harus terus…, bukankah tubuh ini merupakan Bait Allah, dan kuasa Tuhan akan turun di sini,” ungkapnya.

Pdt Alex lalu menggambarkan kehidupan ini tak beda porsinya dengan jalannya Ibadah Raya di setiap pekan. Ia menjelaskan, komposisi jalannya ibadah yakni mencakup 50% pujian dan penyembahan, 25% penyampaian firman Tuhan, dan 25% lagi menampilkan manifestasi buah dan karunia Roh Kudus.

“Roh Tuhan bekerja di antara pujian dan penyembahan yang kita lakukan dalam seluruh ibadah, lalu seluruh kuasa itu keluar dalam panca indera kita,” tuturnya.

MENJADI PENYEMBAH YANG BENAR

Bagaimana menjadi pemuji dan penyembah yang benar? Pdt. Alex menggarisbawahi pentingnya kita untuk memiliki moral, karakter, perasaan, pikiran, serta citra Kristus. “Kalau citranya sebagai anak Allah tak keluar, Roh Kudus tak berfungsi,” tegasnya.

Menjadi pemuji dan penyembah yang benar berarti memberikan hal terbaik yang kita miliki. Baik itu kekuatan, suara, serta penggunaan alat musik sebagai sarana dalam ibadah. Secara khusus, Pdt. Alex menekankan bahwa semua jenis peralatan musik itu awalnya milik Tuhan. “Iblislah yang menyelewengkannya. Kita harus mengembalikan fungsinya untuk kemuliaan Allah,” kata pria 63 tahun yang masih tampil bugar ini.

Tak terpungkiri, kini penggunaan berbagai alat-musik dan nuansa ibadah rancak, yang mulanya dikembangkan Gereja Bethany Indonesia, kini menjadi trend pujian dan penyembahan di banyak tempat. “Tapi, kalau sebuah persekutuan belum siap mengembangkannya ya jangan dipaksakan. Mungkin karena understanding-nya belum paham,” tukasnya.

PRAISE AND WORSHIP SEMBUHKAN SI BUNGSU

Gembala Sidang Pdt. Prof. DR. Abraham Alex Tanuseputra tak pernah bosan mengisahkan dahsyatnya kuasa pujian dan penyembuhan.

Ia mengenang, putera terakhirnya, Andreas Tanuseputra, yang lahir sungsang. “Akibat peristiwa itu, Andre mengalami kelumpuhan hingga usia lima tahun,” ujarnya. Si kecil tak tumbuh normal. Tak bisa bicara dan sama sekali tak mampu berdiri, sebagaimana anak-anak seusianya berkembang secara fisik.

Namun, bukannya mengeluh, pasangan Pdt. Alex dan Yenny Oentari terus mendoakan Andre. Setiap hari, mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan tak putus asa untuk kesembuhan Andre.

Pada usia lima tahun, kuasa pujian dan penyembahan mulai tampak. “Diawali dari gerakan kakinya, Andre kemudian mampu berjalan, bicara, hingga semua sembuh. 100%!” tegasnya.

Kini, si bungsu menjadi suami dari Lisda Andriany. Pasangan bahagia ini tengah menunggu kelahiran buah hati ketiganya. Tak ada yang menyangka, jalan hidupnya berubah karena pujian dan penyembahan.

Comments :

0 komentar to “PENYEMBAHAN ITU HARUS MENYALA 24 JAM !!!!!”

Poskan Komentar